Sabtu, 14 Oktober 2017

ASAS PERANCANGAN OBAT



Asas Perancangan Obat
Pengertian
Rancangan Obat adalah usaha untuk mengembangkan obat yang telah ada, yang sudah diketahui struktur molekul dan aktivitas biologisnya, atas dasar penalaran yang sistematik dan rasional, dengan mengurangi faktor coba-coba seminimal mungkin.
Tujuan dari rancangan obat
Pada awalnya tujuan perancangan obat adalah mendapatkan obat baru dengan aktivitas yang lebih baik dengan biaya yang layak secara ekonomi, kemudian berkembang untuk mendapatkan obat dengan efek samping yang minimal (aman digunakan), bekerja lebih selektif, masa kerja yang lebih lama, dan meningkatkan
kenyamanan pemakaian obat. Rancangan obat sering digambarkan sebagai proses elaborasi sistematik untuk mengembangkan lebih lanjut obat yang sudah ada, dengan tujuan mendapatkan obat baru dengan efek biologis yang diinginkan dan mengurangi atau menghilangkan efek samping yang ada, melalui manipulasi molekul.
Langkah Penting dalam Pengembangan Obat
a.       Mencari Senyawa Penuntun
Beberapa pendekatan dalam mencari dan menemukan senyawa penuntun (lead compound, parent compound) antara lain:
b.      Penapisan Acak Senyawa Produk Alam
Penemuan senyawa produk alam pada umumnya dilakukan karena penapisan secara masal dari bahan alam, diisolasi dan dimurnikan senyawa yang terkandung, ditentukan struktur kimianya, diuji dengan sistem uji biologis dengan metode yang sesuai ( in vitro, in situ dan in vivo) sehingga didapatkan senyawa penuntun.
c.        Senyawa Kimia Aktif dari Kejadian secara tidak Sengaja atau  Kebetulan Beberapa obat kadang-kadang diketemukan kebetulan dalam laboratorium  atau klinik oleh ahli farmasi,ahli kimia, dokter atau peneliti lain.
d.      Uji Metabolit Obat
Mungkin Memberikan Aktivitas Kadang-kadang ada obat yang menimbulkan aktivitas setelah mengalami proses metabolisme (pra-obat/pro-drug). Hasil metabolit aktif tersebut dapat digunakan langsung sebagai obat atau dijadikan senyawa penuntun.
Contoh : Prontosil rubrum direduksi menjdi sulfanilamid yang berkhasiat sebagai antibakteri.
e.       Studi Biomolekul dan Endokrinologi
Proses biokimia, termasuk biologi molekul dan endokrinologi pada manusia dan mamalia, merupakan lapangan yang luas untuk mencari secara sistematik senyawa bioaktif yang mungkin dapat dijadikan senyawa penuntun. Berkembangnya pengetahuan tentang peran Replikasi kromosom dan multiplikasi biopolimer membuka lapangan baru untuk menemukan senyawa penuntun pada rancangan obat. Replikasi ADN, transkripsi informasi genetik dari ADN ke mesengger ARN, dan translasi protein pada ribosom memerlukan perhatin yang khusus karena banyak senyawa aktif yang dapat mempengaruhi tahap-tahap penting proses biosintesis protein tersebut.
Contoh :
Antibiotik mitomisin C bekerja sebgai antikanker dengan menghambat proses replikasi ADN melalui reaksi alkilasi
Doksorubisin bekerja sebagai antikanker dengan menghambat proses replikasi dan trans-kripsi ADN, melalui interaksi interkalasi dengan pasangan basa pada double heliks ADN.
Langkah-langkah perancangan obat :
a.       Mencari senyawa penuntun (lead compound),
yaitu senyawa yang digunakan sebagai pangkal tolak modifikasi molekul. Senyawa penuntun adalah senyawa yang dapat menimbulkan aktivitas biologis, seperti aksi terapeutik, aksi toksik, regulasi fisiologis, hormon, dan feromon, serta senyawa yang terlibat atau berpengaruh terhadap proses biokimia dan patologi pada hewan atau tumbuh-tumbuhan.
b.       Manipulasi molekul (modifikasi molekul atau modifikasi struktur),
Yaitu mensintesis sejumlah turunan senyawa penuntun, melakukan identifikasi strukrtur dan menguji aktivitas biologisnya. Gugus atau substituen yang disubsitusikan dapat dipilih dengan menggunakan metode Topliss, metode pencarian Fibonacci, metode Rangkaian optimisasi simpleks atau Analisis klaster. Jumlah senyawa yang disintesis tergantung dari metode yang digunakan.
c.       Merumuskan hubungan kuantitatif sementara antara struktur-aktivitas biologis dari senyawa yang jumlahnya terbatas dengan menggunakan statistik analisis regresi. Pada tahap ini umumnya digunakan model LFER Hansch (model ekstratermodinamik) atau model de novo Free-Wilson. Parameter sifat kimia fisika yang digunakan dalam HKSA model Hansch adalah parameter lipofilik seperti log P, , f dan Rm, parameter elektronik, seperti pKa,π ∂, ∂i, ∂*, F, dan R, serta parameter sterik, seperti MR, (P), Es, L, dan B1-B5.
d.      Hasil analisis regresi kemudian dievaluasi dan merancang sejenisnya untuk mengembangkan dan menyempurnakan hubungan tersebut. Peneliti harus sudah yakin bahwa senyawa sejenis yang akan disintesis merupakan pilihan”terbaik” secra hipotesis.
e.         Merancang penggunaan bentuk sediaan obat yang sesuai.
f.         Merancang aturan dosis yang sesuai
a.       Merancang Struktur Kimia Baru dan Penetapan Aktivitas Biologis
Dasar pengembangan ini adalah melakukan sintesis senyawa secara kimia murni kemudian dilakukan penapisan aktivitas biologisnya secara acak lengkap dengan harapan beberapa diantaranya mungkin menunjukkan aktivitas yang berguna.  Diperkirakan untuk mendapatkan obat antikejang baru, diperlukan penapisan lebih kurang 500.000 senyawa kimia.
Contoh lain adalah cara penapisan acak secara langsung dan rasional dalam usaha mndapatkan obat antimalaria seperti klorokuin, ternyata memerlukan penapisan lebih kurang 14.000 senyawa kimia. Obat yang didapat dengan metode ini antara lain adalah asetaminofen,sebagai hasil metabolit asetanilid atau fenasitin , sikloguanil dari klorguanid, desipramin, dari imipramin, oksofenarsin dari arsfenamin, dan oksifenabutazon dari fenilbutazon.
b.      Pengembangan Senyawa Penuntun
Senyawa penuntun yang mempunyai aktivitas biologis tertentu dan menarik untuk digunakan sebagai bahan awal pengembangan obat baru dapat dikembangkan lebih lanjut dengan tujuan pengembangan subsitusi untuk mendapatkan senyawa yang lebih poten, spesifik, aman, dan efek samping minimal, tujuan perubahan spectrum aktivitas, dan tujuan modulasi farmakokinetik.
1. Pengembangan substituisi untuk mendapatkan senyawa yang lebih poten,spesifik, aman, dan efek samping minimal.
2. Pengubahan spektrum aktivitas
Contoh :
a. Mengubah senyawa agonis menjadi antagonis spesifik.
b. Memisahkan komponen utama dari spektrum aktivitas ke dalam     molekul
c. Kombinasi aktivitas dari obat yang berbeda
d.Memperkecil efek samping obat
e. Selektif terhadap spesies atau organ tertentu
3. Tujuan suatu modulasi farmakokinetik
yaitu mengatur ketersediaan biologis dan fisiologis senyawa bioaktif dengan melakukan modifikasi molekul.
a.       Modulasi (mengatur) hubungan dosis-efek,yaitu mengatur hubungan   antara dosis obat dengan kadar dalam jaringan target sehingga terjadi perubahan potensi obat. Contoh: pengembangan turunan benzil penisilin sehingga tahan terhadap asam lambung dan dapat diberikan peroral, seperti ampisilin.
b.      Modulasi hubungn waktu-kadar,yaitu dengan membuat sedian depo atau sediaan lepas lambat bila diinginkan efek obat yang lebih lama,atau dibuat sediaan intravena bila diinginkan efek obat yang cepat.
c.       Modulasi distribusi obat pada berbagai kompartemen. Misalnya obat dibuat hidrofilik kuat sehingga tidak dapat menembus membran biologis tertentu dan efek pada kompartemen tertentu. Contoh: sulfatiasol dirancang dalam bentuk hemiptalil(ptalilsulfatiasol) atau hemisuksinil amida(suksisnilsulfatiasol) yang sukar diabsorsi dalam saluran cerna,sehingga efektif untuk poengobatan infeksi saluran cerna.
Pengembangan Obat
Ariens membagi prosedur pengembangan obat berdasarkan perubahan stuktur dan sifat kimia fisika sebagai berikut:
a.       Pembuatan sediaan homolog.
Mengubah jenis atau kedudukan subtituen pada rantai samping.
b.      Mengganti bagian yang kurang penting dan mempertahankan gugus fungsi yang ada.
Contoh : pengembangan turunan sulfonamida dan turunan penisilin.
c.       Melakukan penyederhanaan struktur.
Contoh: penyederhanaan struktur kokain (anestesis setempat) dihasilkan benzokain dan prokain.
d.      Konversi produk alami.
e.       Contoh : aktivitas dan -adrenergik dari turunan katekolamin α β
f.       Modifikasi dengan petunjuk tetapan kimia fisika dari subtituen.
g.      Contoh : pengembangan turunan kloramfenikol
h.      Penggunaan prinsip isosterik
i.        Penggantian gugus ester (COO) pada molekul prokain, senyawa   anestesi setempat, dengan gugus amida (CONH) akan menghasilkan prokainamid yang berkhasiat antiaritmia.
j.        Memisahkan campuran isomer
k.      Pembentukan senyawa kembar
l.        Modifikasi molekul secara alami.
m.    Transformasi mikroba
DAFTAR PUSTAKA
Siswandono, B.S. 1998. Prinsip-Prinsip Rancangan Obat. Surabaya:Airlangga University Press.


PERTANYAAN:
1.       Dalam merancang suatu senyawa obat, langkah apa yang digunakan untuk meminimalisisr kegagalan hasil?

2.       Menurut kamu apakah sudah tepat sistem perancangan obat di Indonesia? adakah langkah-langkah lain untuk meningkatkan kualitas dari obat yang ada di Indonesia?

3.       Tolong jelaskan bagaimana cara melakukan penyederhanaan struktur?

4.       Jelaskan pembuatan seri senyawa homolog?

EFEK SAMPING MORFIN

EFEK SAMPING MORFIN



Morfin adalah jenis obat yang masuk ke dalam golongan analgesik opium atau narkotik. Obat ini digunakan untuk mengatasi rasa sakit yang terbilang parah dan berkepanjangan atau kronis, seperti misalnya nyeri pada kanker stadium lanjut. Morfin bekerja pada saraf dan otak sehingga tubuh tidak merasakan rasa sakit.
Meskipun memiliki manfaat besar, morfin sangat menyebabkan ketergantungan. Risiko ketergantungan ini bahkan lebih tinggi lagi pada pasien yang di masa lalunya pernah kecanduan alkohol atau narkoba.
Interaksi Obat
Jika dikonsumsi dengan obat-obatan tertentu, morfin bisa menimbulkan reaksi berupa peningkatan efek samping atau justru mengurangi efektivitas obat tersebut. Untuk menghindarinya, jangan mengonsumsi morfin dengan beberapa jenis obat berikut ini:
ü  Campuran opioid agonist/antagonist (pentazocine, nalbuphine, butorphanol) atau opioid antagonists (naltrexone).
ü  Obat pereda nyeri opioid dan batuk (codeine, hydrocodone).
ü  Obat tidur atau gangguan kecemasan (alprazolam, lorazepam, zolpidem)
ü  Obat relaksan otot (carisoprodol, cyclobenzaprine).
ü  Minuman beralkohol karena dapat menimbulkan reaksi dan efek samping, seperti mengantuk atau pusing.

Kenali Efek Samping dan Bahaya Morfin
Sama seperti obat-obat lainnya, morfin juga berpotensi menyebabkan efek samping. Beberapa efek samping yang bisa terjadi setelah mengonsumsi morfin antara lain adalah:
ü  Mengantuk.
ü  Pusing atau sakit kepala.
ü  Mual.
ü  Sembelit.
ü  Sulit buang air kecil.
ü  Gangguan tidur.
ü  Mulut terasa kering.
ü  Tubuh berkeringat.

Biasanya efek samping akan hilang dengan sendirinya setelah tubuhmenyesuaikan diri dengan obat. Jika efek samping tidak kunjung hilang atau justru memburuk, segera hubungi dokter.

PERTANYAAN:


1. Bagaimana kontraindikasi dr morfin?
2. Bagaimana mekanisme kerja morfin sehingga bisa menyebabkan penderita menjadi ngantuk ?
3. Bagaimana morfin digunakan sebagai obat analgetik? Dan pada keadaan nyeri yang bagaimana morfin digunakan?
4. Bagaimana bioavabilotas dr obat ini?
5. Mengapa morfin dapat menyebabkan efek samping gangguan tidur?
6. Apakah penggunaan morfin diperbolehkan bersamaan dengan obat lain? Bagaimana interaksi nya? Terimakasih
 

ANALGETIKA

ANALGETIKA

Pengertian:
Analgetika atau obat penghilang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau menghalau rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran (perbedaan dengan anestetika umum). Ambang nyeri didefinisikan sebagai tingkat (level) pada mana nyeri dirasakan untuk pertama kalinya. Dengan kata lain, intensitas rangsangan yang terendah saat orang merasakan nyeri. Untuk setiap orang ambang nyerinya adalah konstan (Tjay, 2007).

Menurut Tjay (2007), berdasarkan lokasi asalnya, nyeri dapat dikatagorikan menjadi beberapa kelas yaitu:
a.     Nyeri somatik adalah nyeri yang berlokasi di sekitar otot atau kulit, umumnya berada di permukaan tubuh.
b.     Nyeri viseral adalah nyeri yang terjadi di dalam rongga dada atau rongga perut.
c.      Nyeri neuropatik terjadi pada saluran saraf sensorik

Obat analgetik tanpa resep umumnya sangat efektif untuk mengatasi nyeri ringan sampai sedang untuk jenis nyeri somatik pada kulit, otot, lutut, rematik, dan pada jaringan lunak lainnya, serta pada nyeri haid dan sakit kepala. Tetapi obat ini tidak begitu efektif untuk nyeri viseral.
Rasa nyeri dalam kebanyakan hal hanya merupakan suatu gejala yang berfungsi melindungi tubuh. Nyeri harus dianggap sebagai isyarat bahaya tentang adanya ganguan di jaringan, seperti peradangan, infeksi jasad renik, atau kejang otot.

Menurut (Katzung,1998), atas dasar kerja farmakologisnya, analgetika dibagi dalam dua kelompok besar, yakni :
a. Analgetika perifer (non-narkotik), yang terdiri dari obat-obat yang   tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral. Analgetika antiradang termasuk kelompok ini.
b. Analgetika narkotik khusus digunakan untuk menghalau rasa nyeri hebat, seperti pada fractura dan kanker .

Analgetik non-opiod (perifer)
Semua analgetik non-opiod (kecuali asetaminofen) merupakan obat anti peradangan non-steroid (NSAID, nonsteroidal anti-inflammatory drug). 
Obat-obat ini bekerja melalui 2 cara:
ü Mempengaruhi sistem prostaglandin, yaitu suatu sistem yang bertanggungjawab terhadap timbulnya rasa nyeri.
ü Mengurangi peradangan, pembengkakan dan iritasi yang seringkali terjadi di sekitar luka dan memperburuk rasa nyeri
Obat analgetik non-opiod digunakan untuk :
ü Meringankan atau menghilangkan rasa nyeri tanpa mempengaruhi SSP atau menurunkan kesadaran juga tidak menimbulkan ketagihan
ü Diberikan untuk nyeri ringan sampai sedang : nyeri kepala, gigi, otot atau sendi, perut, nyeri haid, nyeri akibat benturan
Berdasarkan derivatnya, analgetik non-opiod dibedakan atas 8 kelompok yaitu :
a.     Derivat paraaminofenol : Parasetamol
b.     Derivat Asam Salisilat : asetosal, salisilamid dan benorilat
c.      Derivat asam propionat : ibuprofen, ketoprofen
d.     Derivat Asam fenamat : asam mefenamat
e.      Derivat asam fenilasetat : diklofenak
f.       Derivat asam asetat indol : indometasin
g.     Derivat pirazolon : fenilbutazon
h.     Derivat oksikam : piroksikam
Parasetamol
Merupakan penghambat prostaglandin yang lemah.
Parasetamol mempunyai efek analgetik dan antipiretik, tetapi kemampuan antiinflamasinya sangat lemah

Asetosal (Aspirin)
Mempunyai efek analgetik, anitipiretik, dan antiinflamasi.
Efek samping utama : perpanjangan masa perdarahan, hepatotoksik (dosis besar) dan iritasi lambung.
Diindikasikan pada demam, nyeri tidak spesifik seperti sakit kepala, nyeri otot dan sendi (artritis rematoid).
Aspirin juga digunakan untuk pencegahan terjadinya trombus (bekuan darah) pada pembuluh darah koroner jantung dan pembuluh darah otak 
Pertanyaan : 

1.      Bagaimana pengaruh obat morfin terhadap kerjanya sebagai analgetik jika gugus hidroksi alcohol di Modifikasi (hilangkan) dari strukturnya ?

2.  Apa saja contoh mediator nyeri ?

3. Boleh gak digunakan kombinasi obat antara analgetik narkotik dengan analgetik non-narkotik?

4. Apakah  semua obat golongan analgetik kuat dapat digunakan untuk anak-anak dan lansia?

5. Apa perbedaan aktivitas dari morfin dan kodein jika ditinjau dari strukturnya?

6. Analgetik jenis apa yg bisa digunain untuk endometriosis
7. Bagaimana mengatasi nyeri tanpa meminum obat ?